Layanan akses informasi dari warung kopi

Sebuah warung kopi identik dengan orang yang malas bekerja, obrolan yang tidak penting, ngrasani (membicarakan orang lain) dan banyak hal negatif lainnya. Sebenarnya, hal itu tidaklah salah mengingat warung kopi merupakan sebuah tempat melepaskan segala kepenatan setelah berbagai aktifitas yang menguras tenaga. Apalagi kalau sudah punya teman ngobrol akrab yang setia di warung kopi tersebut. Setidaknya dalam berbagai hal, warung kopi memberikan nuansa baru obrolan yang bisa merefresh pikiran. Itulah warung kopi, sebuah tempat ngobrol super nyaman bagi cluster bawah, setidaknya bukanlah cafe ataupun resto namun hanya sebuah warung berdimensi 5 x 5 dengan berbagai sajian aneka kopi, teh dan susu instan dan berbagai camilan lain.

Namun benarkah sebuah warung kopi hanya berisi kaum-kaum yang malas bekerja atau orang yang hobi membicarakan orang lain??

Akses informasi sebagai judul artikel di atas merupakan jalan kita memperoleh informasi tak terbatas untuk berbagai kepentingan. Memang warung kopi identik dengan berbagai hal negatif namun perlu disadari bahwa intel kepolisian mendapatkan informasi tentang lokasi sekitar yang aktual dan terpercaya bermula dari tempat ini. Kasak kusuk yang beredar di masyarakat dapat ditemukan dengan mudah pada satu tempat. Ya di warung kopi ini. Hanya dengan sedikit memperkenalkan diri, membuka diri dan sedikit lebih akrab maka akan banyak hal menarik yang akan kita temukan di sana. Setidaknya warung kopi adalah jalan paling cepat dan jalan paling mudah untuk memperkenalkan diri jika kita menjadi orang baru di lingkungan tersebut. Namun jangan salah, informasi yang didapatkan seringkali masih mentah dan tidak bisa langsung kita terima dan langsung kita percaya, apalagi jika kita menjadi orang baru.

Jenis informasi yang ada tidak hanya sekedar kasak kusuk, seputar permasalahan individu dan curhatan warga. Namun jika kita cerdas memilih dan memilah informasi, maka warung kopi merupakan tempat akses informasi paling murah, mudah dan cepat yang bisa kita dapatkan terutama jika kita adalah mahasiswa dengan uang saku pas-pasan.

Jangan menganggap mahasiswa yang sering ke warung kopi adalah orang yang malas yang hanya bisa membicarakan orang lain. Namun sebaliknya, mungkin mahasiswa itu merupakan orang yang masih peduli dengan berbagai kejadian aktual yang terangkum dalam berita informasi. Sebuah warung kopi menyediakan jasa langganan koran setiap pagi, tidak hanya 1 jenis koran, namun ada 2 bahkan 3 jenis koran yang ada di warung kopi. Informasi instan, bisa didapatkan hanya dengan memesan teh atau kopi dengan harga Rp 1000,- – Rp 2000,- kita bisa membaca ketiga koran tersebut dengan leluasa, tapi dengan bergiliran. Maklum murah.

Di kos tidak ada TV??

Tidak punya uang untuk langganan koran??

Tidak punya akses internet??

Hmm… hal-hal di atas merupakan hambatan dan kendala untuk mendapatkan informasi namun bukanlah suatu hal yang bisa dijadikan alasan untuk kehilangan suatu informasi. Satu-satunya alasan kita tidak mendapatkan informasi adalah karena memang kita sendiri sudah tidak perduli akan informasi atau karena kita malas.

Bukanlah suatu alasan tidak ada TV dikosan, tidak ada akses internet, tidak ada koran maka kita menjadi buta informasi, apalagi sebagai mahasiswa yang selalu dituntut minimal tahu informasi-informasi kejadian yang aktual dan sedang terjadi. Pikiran kreatif harus segera dinyalakan untuk mengatasi kendala-kendala di atas.

Seperti yang saya sebutkan di atas sebelumnya, warung kopi mempunyai akses informasi murah meriah bagi mahasiswa yang punya uang pas-pasan. Di warung kopi ada koran pagi, walaupun bergiliran minimal kita bisa mengetahui informasi aktual yang telah terjadi. Hanya dengan membeli teh hangat di pagi hari seharga Rp 1500,- maka kita bisa membaca semua koran yang ada warung kopi itu. Bandingkan dengan harga koran seharga Rp 4000,- setelah dibaca sekali kemudian menjadi tidak berguna, hanya menjadi sampah kertas. Padahal kita dituntut harus mengurangi produksi sampah. Secara tidak langsung membaca koran di warung kopi telah membuat kita mengurangi jumlah sampah koran yang telah dihasilkan. Well, bukankah kita patut bangga??

TV memang tidak bisa dipisahkan dari budaya modern saat ini. Selain tempat berjubelnya sinetron, di TV juga disuguhkan berbagai informasi paling up date namun keterbatasan dana membuat anak-anak kos tidak bisa menikmati fasilitas ini dengan mudah. Apalagi jika musim bola dan tim kegemarannya sedang main. Suatu hal yang menyakitkan jika tidak bis menonton pertandingannya. Namun di warung kopi terutama warung kopi yang ada di seputar kos-kosan apalagi lingkungan kampus. Hampir setiap warung kopi memberikan fasilitas TV bahkan ada sebuah warung yang punya TV langganan sehingga ketika ada jadwal pertandingan bola, channel ESPN (stasiun olahraga internasional) wajib dibuka. Masih merasa kekurangan informasi?

Beranjak ke warung kopi yang lebih modern. Kita bisa menikmati fasilitas wifi yang telah disediakan pemilik warung. Cukup bawa laptop masing-masing, pesan teh atau kopi kita bisa menikmati fasilitas wifi semalaman (pemilik warung benar-benar mengetahui kebutuhan mahasiswa). Hal ini telah dibuktikan oleh teman saya. Bandingkan bila kita ke warnet dengan tarif perjam sekitar Rp 2500,- hingga Rp 3000,-. Dengan harga kopi atau teh sekitar Rp 1500,- kita bisa berinternet ria semalaman. FB, email, digital newspaper, download, semua bisa didapatkan.

Sebagai anak kos wajar jika suatu waktu kita dalam kondisi pas-pasan. Namun setidaknya informasi harus terus mengalir agar kita tidak ketinggalan jaman. Istilah ketinggalan jaman bukanlah karena kita tidak memiliki ini-itu namun jika kita ketinggalan informasi barulah itu disebut ketinggalan jaman.

Informasi memang mahal harganya namun hal ini tidak mematikan kreatifitas kita untuk mendapatkan informasi. Seperti yang saya katakan sebelumnya Satu-satunya alasan kita tidak mendapatkan informasi adalah karena memang kita sendiri sudah tidak perduli akan informasi atau karena kita malas.

Masih berpikir tidak bisa mendapatkan informasi?

(saya berharap warung kopi maupun warung nasi tidak mendapat pajak dari pemda seperti di jakarta karena bisa membunuh harkat hidup anak kos)

Kediri, 7 Desember 2010

About these ads

2 thoughts on “Layanan akses informasi dari warung kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s