dopamin

Karena Bu Risma

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original post 4,589 more words

Lupakan Soal Beasiswa, Kamu Pejuang Malas!

Saya setuju pak andi. Namun hal itu terjadi bukan tanpa sebab. Sepengetahuan saya, dari hasil observasi kecil kecil an yang saya lakukan, calon pejuang mahasiswa memiliki motivasi yang berbeda (salah niat) ketika mereka mencari informasi kuliah di LN. Entah karena melihat banyaknya foto senang2 penerima beasiswa di socmed, karena keinginan mereka merasakan hidup di luar Indonesia atau mungkin informasi parsial yang mereka dapatkan dari penerima beasiswa. Hal ini banyak menimbulkan miskonsepsi tentang tujuan study mereka. Toh, jika mereka pun (pejuang malas dan salah niat tersebut) berangkat ke LN, mereka akan susah untuk keep up dengan study di negara tujuan, ujung2nya mereka akan melakukan pelarian dari tujuan utama mereka di LN (study).
Hal ini banyak sekali saya temui di negara tempat saya study. Saya paham jika itu terjadi karena euphoria sesaat atau shock culture namun jika terjadi secara berkelanjutan, sepertinya dari awal kadang motivasinya sudah salah hehe. Dari hal ini saya berusaha memperbaiki sudut pandang saya, terutama dalam memberikan informasi kepada scholarship hunter.
Saya pribadi ketika sedang bersekolah di LN tidak memberikan informasi mengenai technical things seperti administrasi, dokumen dsb. (karena hal itu sudah tercantum di web masing2). Saya lebih memilih memberikan informasi atau berdiskusi setelah saya lulus, karena dengan itu saya benar benar mengalami “ganasnya” study di LN dan bisa memberikan informasi yang objektif terhadap scholarship hunter. Jika ada yang memaksa memberikan informasi ketika saya sedang study, maka saya lebih memilih untuk berdiskusi masalah niat, motivasi, taking risk for our decision, dan budaya riset di tempat saya belajar.
Kadang saya merasa (dan yang saya alami dulu ketika mencari beasiswa), informasi yang diberikan hanya informasi seputar enaknya kuliah di LN, enaknya merasakan culture yang berbeda, foto foto travelling dan semacamnya. Jarang sekali ada yang share masalah topik riset dan permasalahan study (yang saya ketahui belakangan bahwa mahasiswa Indo memiliki common problem (habits & attitudes) di dalam proses study mereka, terutama di tempat saya kuliah). Akhirnya saya memutuskan untuk stop memberikan informasi (takut jika hanya satu sisi saja yang saya berikan (parsial) bisa mislead info ke scholarship hunter) ketika saya sedang kuliah dan lebih fokus ke riset saya.

Terima kasih atas tulisannya dan Ijin share Pak Andi…

a madeandi's life

Tentu saja tulisan ini bukan untuk Anda, pembaca yang budiman. Tulisan ini adalah untuk orang yang tidak Anda kenal. Orang yang memiliki keinginan untuk mendapatkan beasiswa luar negeri tetapi tidak sadar kalau dirinya menderita kemalasan stadium tinggi. Saya menyebutnya pejuang malas dengan ciri-ciri seperti ini:

  1. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya ada di website atau buku panduan beasiswa. Mereka malas membaca.
  2. Selalu mengatakan ‘tes TOEFL/IELTS mahal banget’ tapi malas menabung dan tetap rajin nongkrong di cafe😉
  3. Sibuk berpikir caranya lolos beasiswa meskipun tidak memenuhi syarat. Mereka tidak fokus berusaha agar bisa memenuhi syarat. Anehnya, dengan begitu mereka merasa kreatif.
  4. Mudah bertanya “syarat beasiswanya apa saja?” Seakan itu satu rahasia yang tidak ada di website atau buku panduan (terutama jika ditanyakan lewat email ketika penanya memiliki akses internet yang memadai).
  5. Bertanya “jurusan yg cocok buat saya apa ya?” seakan orang lain lebih paham tentang dirinya. Untuk menggali bakat dan minat sendiri saja…

View original post 214 more words